
Gunung Ciremai merupakan salah satu kawasan pegunungan penting di Jawa Barat yang memiliki fungsi vital sebagai daerah tangkapan air, penyangga ekosistem, sekaligus sumber penghidupan masyarakat sekitar. Namun, dalam kurun waktu panjang, kawasan ini sempat mengalami kerusakan akibat penebangan liar, alih fungsi lahan, serta aktivitas pertanian yang tidak ramah lingkungan. Kondisi tersebut memicu berkurangnya tutupan hutan, meningkatnya risiko longsor, hingga menurunnya ketersediaan air bagi warga di kaki gunung.
Melihat persoalan itu, Dedi Mulyadi menghadirkan pendekatan yang tidak biasa dalam upaya pemulihan Gunung Ciremai. Alih-alih hanya mengandalkan kebijakan administratif, ia menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam proses penghijauan dan konservasi.
Menggaji Warga untuk Menjaga Alam Gunung Ciremai
Salah satu langkah kunci yang dilakukan adalah menggaji warga sekitar Gunung Ciremai untuk melakukan penghijauan. Masyarakat tidak lagi diposisikan sebagai pihak yang dibatasi aksesnya ke hutan, melainkan sebagai penjaga dan perawat alam. Dengan skema ini, warga mendapatkan penghasilan rutin dari aktivitas menanam, merawat, dan menjaga pohon agar tumbuh dengan baik.
Pendekatan ini terbukti efektif karena menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Ketika ekonomi warga terbantu, ketergantungan pada aktivitas perusakan hutan pun berkurang. Hutan tidak lagi dilihat sebagai objek eksploitasi semata, tetapi sebagai sumber kehidupan jangka panjang yang harus dijaga bersama.
Program Pemberian Empat Ekor Domba
Selain menggaji warga, Dedi Mulyadi juga menggulirkan program pemberian empat ekor domba kepada setiap keluarga peserta. Program ini memiliki tujuan ganda. Pertama, domba menjadi sumber ekonomi alternatif bagi warga. Kedua, pola beternak diarahkan agar tidak merusak hutan, misalnya dengan sistem kandang dan pakan yang terkontrol.
Dengan adanya domba, masyarakat memiliki aset produktif yang dapat dikembangkan. Hasil ternak bisa dijual, dikembangbiakkan, atau dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Skema ini membuat warga tidak perlu membuka lahan baru di kawasan hutan demi bertahan hidup.
Mengubah Pola Pikir Masyarakat
Keberhasilan program pemulihan Gunung Ciremai tidak hanya terletak pada bantuan materi, tetapi juga pada perubahan pola pikir. Dedi Mulyadi menekankan bahwa hutan yang lestari akan memberikan manfaat ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan keuntungan sesaat dari perusakan lingkungan.
Melalui dialog dan pendekatan budaya, masyarakat Tuna55 diajak memahami hubungan antara kelestarian alam, ketersediaan air, dan kesejahteraan generasi mendatang. Perlahan, tumbuh kesadaran kolektif bahwa menjaga gunung berarti menjaga masa depan bersama.
Dampak Jangka Panjang bagi Lingkungan
Upaya penghijauan yang melibatkan masyarakat ini memberikan dampak positif dalam jangka panjang. Tutupan hijau mulai pulih, mata air kembali mengalir stabil, dan risiko bencana alam dapat ditekan. Di sisi lain, kesejahteraan warga meningkat karena memiliki sumber pendapatan yang berkelanjutan.
Model pemulihan Gunung Ciremai ini kerap dipandang sebagai contoh bahwa konservasi alam tidak harus bertentangan dengan kepentingan ekonomi masyarakat. Dengan pendekatan yang tepat, keduanya justru dapat berjalan beriringan.
Cara Dedi Mulyadi memulihkan Gunung Ciremai menunjukkan bahwa solusi lingkungan membutuhkan sentuhan sosial dan ekonomi. Menggaji warga untuk penghijauan serta memberikan empat ekor domba bukan sekadar bantuan, melainkan strategi membangun hubungan harmonis antara manusia dan alam. Pendekatan ini menjadi bukti bahwa pelestarian lingkungan akan lebih efektif ketika masyarakat dilibatkan dan diberdayakan secara nyata.