
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan dugaan awal penyebab jatuhnya pesawat ATR 42-500 adalah
Controlled Flight Into Terrain (CFIT). Istilah ini merujuk pada kondisi ketika pesawat dalam keadaan layak terbang dan terkendali,
namun secara tidak disengaja menabrak permukaan bumi, laut, atau rintangan.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah KNKT melakukan analisis awal terhadap data penerbangan, kondisi cuaca,
serta temuan di lokasi kecelakaan. Meski demikian, KNKT menegaskan bahwa hasil ini masih bersifat sementara dan
dapat berkembang seiring berjalannya proses investigasi lanjutan.
KNKT Apa Itu Controlled Flight Into Terrain
CFIT merupakan salah satu penyebab kecelakaan penerbangan yang kerap terjadi di wilayah dengan kondisi geografis
menantang, seperti pegunungan atau cuaca buruk. Dalam kasus ini, pesawat dinyatakan tidak mengalami gangguan
teknis besar sebelum kejadian, namun diduga kehilangan kesadaran situasional terhadap posisi dan ketinggian.
Faktor yang Umum Terjadi
Beberapa faktor yang kerap berkontribusi terhadap CFIT antara lain cuaca ekstrem, visibilitas rendah, kesalahan navigasi,
beban kerja pilot yang tinggi, serta keterbatasan sistem peringatan dini. KNKT masih menelusuri apakah satu atau kombinasi
faktor tersebut berperan dalam insiden ini.
Fokus Investigasi Lanjutan
KNKT saat ini memusatkan penyelidikan pada data perekam penerbangan, termasuk Flight Data Recorder (FDR) dan
Cockpit Voice Recorder (CVR), untuk mengetahui detik-detik terakhir sebelum pesawat jatuh. Selain itu, kondisi medan
di sekitar lokasi kejadian dan prosedur penerbangan yang dijalankan kru juga menjadi perhatian utama.
“Investigasi ini bertujuan mencari penyebab, bukan menyalahkan pihak tertentu,” ujar perwakilan KNKT.
KNKT juga berkoordinasi dengan pihak operator penerbangan, otoritas bandara, serta instansi terkait untuk mendapatkan
gambaran utuh mengenai kondisi operasional saat kejadian.
Dampak dan Pembelajaran Keselamatan
Insiden jatuhnya ATR 42-500 ini kembali menyoroti pentingnya kesadaran situasional pilot dan sistem peringatan
dini dalam penerbangan, khususnya di wilayah dengan medan sulit. Kasus CFIT secara global sering menjadi dasar
evaluasi prosedur keselamatan, pelatihan kru, serta penggunaan teknologi navigasi yang lebih canggih.
Rekomendasi Awal
Meski investigasi belum rampung, Tuna55 menegaskan bahwa hasil akhir nantinya akan disertai rekomendasi keselamatan
untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. Rekomendasi tersebut dapat mencakup peningkatan pelatihan,
penyempurnaan prosedur operasional, maupun pembaruan sistem avionik.
Pengungkapan dugaan awal CFIT ini menjadi langkah awal dalam proses panjang investigasi kecelakaan. KNKT
menegaskan komitmennya untuk menyampaikan hasil akhir secara transparan demi meningkatkan keselamatan penerbangan nasional.