
Generasi Z atau Gen Z dikenal sebagai generasi yang tumbuh di era digital dengan akses informasi tanpa batas. Pola pikir dan gaya hidup mereka pun berbeda dibanding generasi sebelumnya, termasuk dalam hal bepergian. Bagi Gen Z, perjalanan bukan sekadar berpindah tempat atau mengunjungi destinasi populer, melainkan tentang pengalaman yang bisa dirasakan, dipelajari, dan dibagikan. Pengalaman inilah yang menjadi pendorong utama mereka dalam merencanakan perjalanan.
Perjalanan Gen Z sebagai Sarana Mencari Makna
Gen Z cenderung memandang perjalanan sebagai cara untuk menemukan makna dan jati diri. Mereka ingin merasakan langsung budaya lokal, berinteraksi dengan masyarakat setempat, serta memahami cerita di balik suatu tempat. Mengunjungi destinasi hanya untuk berfoto dianggap kurang memuaskan jika tidak disertai pengalaman yang autentik.
Aktivitas seperti mengikuti kelas memasak tradisional, tinggal di homestay warga lokal, atau terlibat dalam kegiatan sosial menjadi daya tarik tersendiri. Dari pengalaman tersebut, Gen Z merasa mendapatkan nilai lebih dibanding sekadar liburan singkat yang bersifat konsumtif.
Pengaruh Media Sosial terhadap Pilihan Destinasi
Media sosial memiliki peran besar dalam membentuk cara bepergian. Namun menariknya, bukan hanya destinasi populer yang menarik perhatian mereka, melainkan pengalaman unik yang bisa dibagikan. Konten perjalanan yang menunjukkan proses, cerita, dan emosi sering kali lebih menarik dibanding foto destinasi mewah.
Gen Z juga lebih tertarik pada tempat-tempat yang belum terlalu ramai atau belum banyak diekspos. Mereka ingin menjadi bagian dari cerita awal suatu destinasi, sekaligus membangun identitas diri melalui pengalaman yang berbeda dari orang lain.
Fleksibilitas dan Kebebasan dalam Bepergian
Pengalaman juga berkaitan erat dengan fleksibilitas. Gen Z cenderung menyukai perjalanan yang tidak terlalu terikat jadwal ketat. Mereka lebih menikmati perjalanan spontan, menjelajah tanpa rencana detail, dan membuka diri terhadap kemungkinan baru.
Kebebasan ini memberi ruang bagi mereka untuk menyesuaikan perjalanan dengan minat pribadi, baik itu petualangan alam, wisata kuliner, seni, hingga eksplorasi budaya. Perjalanan menjadi proses belajar yang dinamis, bukan sekadar agenda yang harus diselesaikan.
Nilai Keberlanjutan dan Kesadaran Sosial
Selain pengalaman personal, Gen Z juga semakin peduli pada dampak perjalanan mereka. Banyak dari mereka memilih pengalaman wisata yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Mengurangi sampah, mendukung usaha lokal, serta menghormati budaya setempat menjadi bagian dari pengalaman yang mereka cari.
Bagi Tuna55, perjalanan yang bermakna adalah perjalanan yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.
Pengalaman sebagai Investasi Jangka Panjang
Pada akhirnya, Gen Z memandang pengalaman perjalanan sebagai investasi jangka panjang. Kenangan, pelajaran hidup, dan perspektif baru dianggap lebih berharga dibanding barang atau kemewahan. Pengalaman tersebut membentuk cara berpikir, meningkatkan empati, serta memperkaya wawasan mereka tentang dunia.
Tidak heran jika pengalaman menjadi pendorong utama perjalanan Gen Z. Bagi mereka, bepergian bukan sekadar pergi, melainkan proses tumbuh, belajar, dan membangun cerita hidup yang berarti.