
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 masih menunjukkan ketahanan yang kuat, terutama karena ditopang
oleh konsumsi rumah tangga. Hal ini disampaikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dalam berbagai rilis dan analisis
terbaru terkait kinerja perekonomian nasional. Konsumsi rumah tangga secara konsisten menjadi kontributor terbesar
terhadap produk domestik bruto (PDB), mencerminkan daya beli masyarakat yang relatif terjaga di tengah tantangan global.
BPS mencatat bahwa struktur ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada belanja masyarakat, mulai dari kebutuhan
pokok hingga konsumsi barang dan jasa. Stabilnya inflasi, meningkatnya mobilitas masyarakat, serta aktivitas ekonomi
yang kembali normal pascapandemi menjadi faktor pendukung kuat bagi pertumbuhan konsumsi rumah tangga sepanjang 2025.
Peran Daya Beli dan Stabilitas Harga
Salah satu faktor utama yang menjaga pertumbuhan konsumsi rumah tangga adalah daya beli masyarakat yang relatif stabil.
BPS menilai pengendalian inflasi yang efektif, terutama pada kelompok makanan dan minuman, berperan penting
dalam menjaga pola belanja masyarakat. Ketika harga kebutuhan pokok dapat dikendalikan, masyarakat cenderung
tetap melakukan konsumsi, sehingga roda perekonomian terus berputar.
Selain itu, berbagai program perlindungan sosial dan bantuan pemerintah turut membantu kelompok masyarakat
berpenghasilan rendah agar tetap mampu memenuhi kebutuhan dasarnya. Kondisi ini berdampak positif terhadap
konsumsi secara agregat dan memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi nasional.
Dukungan dari Aktivitas Ekonomi Domestik
BPS juga menyoroti bahwa meningkatnya aktivitas ekonomi domestik menjadi pendorong tambahan bagi konsumsi
rumah tangga. Sektor perdagangan, transportasi, dan jasa mengalami pertumbuhan seiring dengan meningkatnya
mobilitas masyarakat dan aktivitas pariwisata. Momen musiman seperti hari besar keagamaan dan libur nasional
turut mendorong lonjakan konsumsi dalam periode tertentu.
Di sisi lain, perbaikan pasar tenaga kerja ikut memperkuat keyakinan konsumen. Tingkat penyerapan tenaga kerja
yang membaik serta pendapatan yang lebih stabil mendorong masyarakat untuk tetap berbelanja, meskipun
ketidakpastian global masih membayangi perekonomian dunia.
Tantangan dan Prospek ke Depan
Meski konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama Tuna55, BPS mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan
pada satu komponen pertumbuhan perlu diimbangi dengan penguatan sektor lain. Investasi dan ekspor diharapkan
dapat memberikan kontribusi yang lebih besar agar struktur pertumbuhan ekonomi menjadi lebih seimbang dan berkelanjutan.
Ke depan, tantangan seperti fluktuasi harga komoditas global, risiko geopolitik, serta perubahan iklim tetap perlu diantisipasi.
Namun, dengan konsumsi rumah tangga yang tetap kuat dan kebijakan ekonomi yang adaptif, pertumbuhan ekonomi
Indonesia pada 2025 diproyeksikan tetap berada di jalur positif.
Secara keseluruhan, BPS menegaskan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi
Indonesia pada 2025. Stabilitas harga, daya beli masyarakat, serta aktivitas ekonomi domestik yang terus bergerak menjadi
faktor kunci yang menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global.