PSV Eindhoven kembali menegaskan dominasi mereka di Eredivisie musim ini setelah meraih kemenangan telak atas rival beratnya, Feyenoord. Dalam laga sarat gengsi yang berlangsung di Philips Stadion, PSV sudah “membuat mincemeat” Feyenoord sejak babak pertama, hasil yang membuat jarak poin di papan atas klasemen kini melebar menjadi 17 poin—sebuah selisih yang nyaris tak terbayangkan pada fase awal musim.
Pertandingan ini merupakan pertemuan ke-131 kedua klub di ajang Eredivisie. Berbekal kemenangan meyakinkan 3-0 atas AZ pada laga sebelumnya, PSV datang dengan kepercayaan diri tinggi. Mereka bahkan menjadi satu-satunya tim yang belum kehilangan satu poin pun musim ini. Sebaliknya, Feyenoord—yang memainkan satu laga lebih sedikit—terseok di posisi ketujuh dan sudah menelan kekalahan, termasuk dari FC Utrecht.
Awal Kuat dan Tekanan Tanpa Ampun
Sejak peluit awal dibunyikan, PSV tampil agresif dan rapi. Aliran bola cepat, tekanan tinggi, serta pergerakan tanpa bola yang dinamis membuat Feyenoord kesulitan keluar dari tekanan. Keunggulan PSV praktis sudah terlihat sebelum turun minum, ketika mereka mampu memaksimalkan celah di lini pertahanan tim tamu. Intensitas permainan tuan rumah membuat Feyenoord tak mampu mengembangkan permainan terbaiknya.
Memutus Tren Negatif
Kemenangan ini terasa semakin manis karena PSV berhasil memutus tren buruk mereka. Dalam enam pertemuan Eredivisie terakhir, PSV selalu gagal menang atas Feyenoord. Terakhir kali PSV mengalahkan klub Rotterdam itu terjadi pada 25 Februari 2018 di De Kuip, lewat gol Santiago Arias, Steven Bergwijn, dan Gastón Pereiro. Kini, rekor negatif tersebut resmi berakhir.
Di Philips Stadion sendiri, Feyenoord memang kerap kesulitan. Kemenangan terakhir mereka di kandang PSV terjadi pada September 2016, sementara kekalahan terbesar tercatat pada Oktober 2010 saat mereka dibantai 10-0—sebuah catatan kelam yang masih membekas dalam sejarah rivalitas ini.
Bintang Muda dan Kekuatan Bangku Cadangan
Performa individu juga patut disorot. Pemain muda PSV, Noni Madueke, kini tinggal satu gol lagi untuk mencapai 10 gol Eredivisie sebelum usia 20 tahun—sebuah pencapaian langka yang sebelumnya terakhir diraih oleh Memphis Depay pada 2013.
Selain itu, fleksibilitas skuad PSV menjadi senjata utama. Di bawah arahan Roger Schmidt, rotasi pemain berjalan efektif. Sepanjang tahun kalender ini, PSV telah mencetak 13 gol Eredivisie melalui pemain pengganti—setidaknya lima gol lebih banyak dibanding klub mana pun.
Dengan performa sekomplet ini, PSV tak hanya memenangkan “topper”, tetapi juga mengirim pesan tegas: mereka adalah kandidat terkuat juara musim ini. Feyenoord, sementara itu, harus segera berbenah jika tak ingin semakin tertinggal dalam perburuan papan atas. Tuna55